NongBar (Nongkrong Bareng) PPIT Harbin

Oleh: Satrianawati

Nongkrong bareng sambut maba merupakan kegiatan PPD PPIT Harbin yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Ketua pelaksana kegiatan Amelia Siswanto bersama para panitia lain telah membuat kesan yang baik dalam pelaksanaan acara ini. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini yang utama adalah agar Mahasiswa baru yang datang ke Harbin tidak merasa sendiri.

Dimulai dari perancangan hingga pelaksanaan kegiatan berjalan dengan sangat baik. Acara yang dilaksanakan pada Malam Minggu 17 Maret 2018 memberikan kesan kepada semua mahasiswa yang hadir, bahwa malam Minggu kali ini engkau tak sendiri tetapi engkau punya mereka “keluarga” PPIT Harbin di sini.  Pelaksanaan acara dimulai sejak pukul 17.30 tetapi ada juga yang hadir pukul 18.00 dikarenakan mereka yang muslim masih harus menunaikan sholat Maghrib terlebih dahulu dan keadaan ini sangat ditoleransi oleh mahasiswa non muslim. Sesuai dengan semboyan NKRI “Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi satu jua.

Ada banyak kesan yang diambil dari acara ini misalnya saja saya sebagai penulis, sebenarnya untuk sampai ke tempat tujuan cukup dengan naik bus. Tetapi karena pentingnya acara ini dan tidak ingin melewatkan waktu bertemu dengan mahasiswa baru, sehingga lebih memilih naik taksi dari Hashida ke tempat acara sehingga dapat bertemu dengan waktu yang tepat.

Selain itu, ada kesan yang menarik sebelum dimulainya acara kegiatan, dimana ketua PPIT Harbin Kak Samuel Gilbert mesti menjemput mahasiswa dari HMU (Harbin Medical University) untuk sampai ke tempat acara. Dan tentunya masih banyak cerita dari mahasiswa yang lain.

Ada banyak hal positif yang dapat diambil dari acara malam ini. Bukan makanannya tapi lebih kepada kebersamaan yang diciptakan. Saya ingin menegaskan kembali Indonesia bermacam suku dan budaya dan berbeda agama, tetapi kerukunan, kebersamaan, sikap saling membantu merupakan budaya Indonesia yang sangat kental. Itulah mungkin kesan yang tak ternilai yang dapat kita ambil. Intinya kekeluargaan dan kebersamaan menjadi hal yang diprioritaskan di kepengurusan PPIT Harbin. Teman lama berkumpul dan menjalin keakraban satu sama lain.

Dari beberapa gambar yang nampak malam ini terlihat bahwa semua mahasiswa antusias dan menikmati setiap momen dan kebersamaan. Lanjut cerita, dalam pelaksanaan kegiatan makan bersama mahasiswa yang ditargetkan mengikuti acara ini hanyalah 25 orang. Tetapi karena antusiasme dari mahasiswa dalam penyambutan mahasiswa baru, target melewati kapasitas atau kuota yang direncanakan. Dimana panitia hanya memesan tiga meja dalam pelaksanaan acara ini. Tapi karena banyaknya mahasiswa yang hadir sehingga ditambah 1 meja lagi dengan banyak tambahan kursi. Keadaan seperti ini langsung ada kegiatan gayung bersambut dari “Mas Talenta kepada Mbak Amelia Siswanto untuk segera melakukan penambahan meja. Ketua pelaksana panitia lainnya langsung segera menghubungi pihak restoran.

Mahasiswa yang hadir dalam acara ini sebanyak 37 mahasiswa dengan peserta yang terakhir datang adalah Pak Jerry dan Pak Jun Harbi. Sehingga kursi diselipkan untuk mereka di meja tiga. Sedangkan meja empat sebagai tambahan yang dimaksudkan adalah mahasiswa HMU yang dijemput oleh ketua PPIT.

Malam semakin larut kebersamaan tetap terjaga. dan kini tibalah saat berpisah dimana semua mahasiswa yang hadir mesti pulang ke dorm masing-masing. Sebelum pulang, diadakan foto bersama di depan restoran. Inilah foto-fotonya.

 

Pengalaman Kuliah di Harbin Normal University

Oleh: Satrianawati (Mahasiswi Doktoral di Harbin Normal University)

 

Perkenalkan saya Satrianawati dan ini adalah cerita tentang tahun pertama saya di Harbin. Saya akan memfokuskan cerita saya tentang pengalaman belajar bahasa Mandarin dan dormitory alias asrama Hashida (Harbin Shifan Daxue). Cerita saya bermula dari belajar bahasa Mandarin di Harbin Normal University. Karena bahasa China saya sangat kurang, saya mengambil program Bahasa selama 1 Tahun. Ringkasnya, belajar Bahasa di Hashida sangat menyenangkan dan tentunya mencerdaskan.

Maw taw gak?

Pertama kali datang ke kelas, saya bertemu dengan orang-orang yang baru dan tentunya dengan budaya yang berbeda dengan Indonesia. Ruang kelas saya sangat kecil. Kelas saya berukuran kurang lebih 3,5 x 4,5 meter. Saya merasa ruangan yang kecil ini tidak membuat saya merasa sesak tapi membuat saya semakin dekat dengan mahasiswa lainnya. Belajar bahasa Mandarin memang sangat sulit, tapi sangat menarik.

Di Hashida, belajar bahasa Mandarin terdiri dari tiga pelajaran utama yaitu: berbicara (kouyu ke), umum (zonghe ke) dan mendengarkan (tingli ke). Ketiga pelajaran hampir sama, intinya semuanya mengarahkan mahasiswa untuk dapat memahami bahasa di China tidak hanya untuk berkomunikasi tetapi juga untuk menulis yang disertai dengan struktur bahasa (yufa).

Saat belajar di kelas, kami tidak langsung diajarkan hanzi. Tetapi dimulai dari mengenal huruf pinyin atau mengenal cara baca. Selanjutnya membaca pinyin dengan tone yang berbeda dan menulis Hanzi. Setiap huruf Hanzi ditulis sebanyak 10x. dan semakin hari kata yang ditulis semakin banyak. Tulisan Hanzi saya yang pertama sangat lucu, tulisan Hanzi saya besar besar seperti pagar. Tapi itu tidak hanya terjadi pada saya, bahkan teman-teman saya juga mengalami hal yang sama. Bahkan ada teman saya yang menulis dan tulisannya jauh dari yang diharapkan, sehingga beda tulisan menjadi beda arti.

Hari demi hari terus berganti, kami belajar dengan baik. Setiap hari kami punya tugas belajar yang disebut “ting xie” orang Indonesia bilang “dikte”. Kegiatan belajar ini dilakukan di awal pelajaran “Zonghe”, dimana guru membaca huruf-huruf hanzi dan mahasiswa menulis hanzi. Terkadang banyak mahasiswa yang datangnya telat, karena takut dengan “ting xie”. Tapi percayalah kegiatan belajar “ting xie” membuat kami cepat memahami dan menulis “Hanzi” dengan baik. Selalu hadir tepat waktu dan belajar dengan baik merupakan kegiatan utama yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswa Hashida. Kegiatan belajar dilakukan selama 4 bulan, dimana dibulan keempat kami sudah bisa membaca hanzi tanpa pinyin. Kemudian diadakan ujian dari ketiga mata pelajaran tersebut.

Setelah ujian selesai kami kemudian libur winter selama 2 bulan Januari dan Februari. Selanjutnya, penaikkan kelas. Semua mahasiswa dipastikan naik kelas, tapi ketika di kelas ini ditemukan mahasiswa yang sulit membaca Hanzi maka siswa tersebut akan diturunkan atau dikembalikan ke level yang semestinya. Mata pelajaran di kelas yang baru, tetap sama dengan di kelas sebelumnya. Perbedaannya terletak pada tingkat kesulitan materi. Semakin tinggi kelasnya semakin sulit materinya. Tapi percayalah, sulitnya materi pelajaran terjadi kalau Anda tidak belajar dengan baik. Tapi kalau kamu mengikutinya, kamu akan memahami semua materi pelajarannya. Di kelas saya yang baru, sangat jauh berbeda dengan kelas awal saya. Kelas saya yang baru berukuran sangat besar yang berisi lebih dari 40 kursi. Dengan papan tulis yang sangat canggih, menurut saya.

Kelas saya yang bagus membuat saya sangat nyaman dan semangat belajar. Guru kami mengajar dengan penuh cinta kasih. Sangat peduli dengan kami. Guru kami menuntun kami dengan baik, dalam berbicara, membaca hanzi, dan lain sebagainya. Bahkan ketika kami mengalami masalah dengan hal terkecil misal membeli air minum dengan cara menelpon tukang galon.

 Lanjut yaaaa,

Selain seputar belajar di Hashida saya juga ingin bercerita tentang dormitory di Hashida. Dormitory di Hashida ada tiga dorm. Dorm 1, dorm 2, dan dorm 3. dorm 2 lebih bagus dari dorm 1, dan dorm 3 lebih bagus dari dorm 2. itulah yang dikatakan oleh mahasiswa yang ada di Hashida. Pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari hal ini? Kamu akan melihat karakter setiap orang yang selalu melihat perbedaan dan lupa mensyukuri apa yang telah dimiliki. Bagi saya yang tinggal di dorm 1, saya merasa bahwa dorm dimana saya tinggal sangat bagus. Mengapa? Karena saya tidak membandingkan dengan yang lebih bagus dari apa yang saya tinggali saat ini. Saya lebih suka bersyukur dengan apa yang saya punya. Sehingga saya puas dengan apa yang saya miliki saat ini.  Dorm saya dilengkapi tempat tidur, meja belajar, cermin, televisi, lemari dengan 4 pintu bawah yang besar dan 4 pintu atas yang kecil. Tentunya lemari ini sudah sangat besar untuk menampung semua barang saya. Selain itu, kami tidak lagi membayar listrik dan wifi termasuk air hangat. Karena semua sudah include dalam pembayaran dorm dan tergolong cukup murah, yaitu 800 yuan perbulan. Selain itu air hangat tidak perlu bayar. Air hangat mengalir mulai dari jam 06.30 pagi sampai jam 8 pagi. Kemudian malam air, hangat mengalir jam 7 sampai jam 10 malam. Air hangat di Harbin sangat penting. Karena cuaca di Harbin yang sangat dingin. Kondisi cuaca adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran yang Maha Kuasa, dimana tubuh kita lama-kelamaan bisa beradaptasi dengan cuaca ini. Jangan takut datang Ke Harbin, dimanapun tempatmu, itu Bumi Allah. Jadi kuliah di Hashida dan tinggal di dorm Hashida banyak untungnya.

Harbin Winter Tour 2018: Huan Yin Ni !

Oleh: Rima Febria

Harbin Winter Tour merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) PPI Tiongkok cabang Harbin. Latar belakang diselenggarakannya kegiatan ini yaitu karena banyaknya minat orang untuk mengunjungi kota ini. Kota Harbin dikenal juga dengan julukan “Kota Es”, karena kota ini memiliki musim dingin yang panjang dan merupakan salah satu tempat terdingin di Tiongkok. Selain itu, Harbin juga merupakan ibu kota Provinsi Heilongjiang yang terletak di bagian Utara Tiongkok. Kegiatan Harbin Winter Tour ini memiliki tujuan utama untuk mengenalkan budaya dan lingkungan Harbin kepada masyarakat Indonesia, selain itu juga membantu mengakomodasi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung kemari.

Rangkaian acara Harbin Winter Tour ini diselenggarakan selama 4 hari 3 malam, tepatnya dari tanggal 20-23 Januari 2018. Peserta berjumlah 16 orang, mayoritas merupakan mahasiswa/i Indonesia yang sedang kuliah di kota-kota lain di Tiongkok seperti Nanchang, Shenyang, Beijing, Hebei, dan Shandong. Pada hari pertama, para peserta diajak mengunjungi Biological Camp Unit 731. Ini merupakan salah satu museum yang paling terkenal di Harbin, museum ini menceritakan sejarah tragis mengenai eksperimen manusia yang dilakukan oleh tentara Jepang pada zaman perang dunia II. Lalu, pada pagi hari kedua destinasi pertama yang dituju adalah Volga Manor, yang merupakan komplek berisi bangunan-bangunan khas Rusia. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Central Street dan Saint Sophia Cathedral. Central Street merupakan pusat pembelanjaan di Harbin, sedangkan Saint Sophia Cathedral adalah bangunan gereja kuno yang dibangun pada abad ke -18 oleh bangsa Rusia. Selanjutnya menjelang malam para peserta diajak ke Harbin Ice and Snow World Festival 2018, yang merupakan event tahunan berisikan bangunan-bangunan dan ukiran-ukuran raksasa dari balok es.  Pada hari kedua ini suhu di Harbin telah mencapai titik yang cukup ekstrim yaitu mencapai -30 derajat celcius, meskipun begitu antusiasme para peserta tetap terlihat besar untuk menikmati perjalanan di Harbin. Memasuki hari ketiga, suhu di Harbin terus menerus menurun yaitu berada dititik -28 derajat celcius hingga -33 derajat celcius. Para peserta bergegas untuk berangkat menuju Snow Village, untuk tiba tempat ini perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu kurang lebih selama 6 jam. Snow Village sendiri merupakan tempat ikonik dari provinsi Heilongjiang, dimana tempat ini merupakan sebuah pedesaan yang seluruh bangunannya dipenuhi salju seperti rumah-rumah di negeri dongeng dan ketebalan salju disini bisa mencapai satu meter. Selain menikmati cantiknya pemandangan, para peserta juga bisa bermain snow motor untuk menuju puncak tertinggi di Snow Village. Memasuki hari ke empat, destinasi terakhir adalah Yabuli Ski Resort. Setelah bermalam di Snow Village, para peserta bersiap pergi ke Yabuli Ski Resort untuk bermain ski dan snowboarding. Peserta diberikan kesempatan untuk bermain selama empat jam. Setelah puas menikmati seluruh rangkaian acara, akhirnya para peserta kembali pulang selamat ke Harbin dan langsung diantarkan menuju stasiun kereta api. (RMF)