NongBar (Nongkrong Bareng) PPIT Harbin

Oleh: Satrianawati

Nongkrong bareng sambut maba merupakan kegiatan PPD PPIT Harbin yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Ketua pelaksana kegiatan Amelia Siswanto bersama para panitia lain telah membuat kesan yang baik dalam pelaksanaan acara ini. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini yang utama adalah agar Mahasiswa baru yang datang ke Harbin tidak merasa sendiri.

Dimulai dari perancangan hingga pelaksanaan kegiatan berjalan dengan sangat baik. Acara yang dilaksanakan pada Malam Minggu 17 Maret 2018 memberikan kesan kepada semua mahasiswa yang hadir, bahwa malam Minggu kali ini engkau tak sendiri tetapi engkau punya mereka “keluarga” PPIT Harbin di sini.  Pelaksanaan acara dimulai sejak pukul 17.30 tetapi ada juga yang hadir pukul 18.00 dikarenakan mereka yang muslim masih harus menunaikan sholat Maghrib terlebih dahulu dan keadaan ini sangat ditoleransi oleh mahasiswa non muslim. Sesuai dengan semboyan NKRI “Bhineka Tunggal Ika yang artinya berbeda-beda tetapi satu jua.

Ada banyak kesan yang diambil dari acara ini misalnya saja saya sebagai penulis, sebenarnya untuk sampai ke tempat tujuan cukup dengan naik bus. Tetapi karena pentingnya acara ini dan tidak ingin melewatkan waktu bertemu dengan mahasiswa baru, sehingga lebih memilih naik taksi dari Hashida ke tempat acara sehingga dapat bertemu dengan waktu yang tepat.

Selain itu, ada kesan yang menarik sebelum dimulainya acara kegiatan, dimana ketua PPIT Harbin Kak Samuel Gilbert mesti menjemput mahasiswa dari HMU (Harbin Medical University) untuk sampai ke tempat acara. Dan tentunya masih banyak cerita dari mahasiswa yang lain.

Ada banyak hal positif yang dapat diambil dari acara malam ini. Bukan makanannya tapi lebih kepada kebersamaan yang diciptakan. Saya ingin menegaskan kembali Indonesia bermacam suku dan budaya dan berbeda agama, tetapi kerukunan, kebersamaan, sikap saling membantu merupakan budaya Indonesia yang sangat kental. Itulah mungkin kesan yang tak ternilai yang dapat kita ambil. Intinya kekeluargaan dan kebersamaan menjadi hal yang diprioritaskan di kepengurusan PPIT Harbin. Teman lama berkumpul dan menjalin keakraban satu sama lain.

Dari beberapa gambar yang nampak malam ini terlihat bahwa semua mahasiswa antusias dan menikmati setiap momen dan kebersamaan. Lanjut cerita, dalam pelaksanaan kegiatan makan bersama mahasiswa yang ditargetkan mengikuti acara ini hanyalah 25 orang. Tetapi karena antusiasme dari mahasiswa dalam penyambutan mahasiswa baru, target melewati kapasitas atau kuota yang direncanakan. Dimana panitia hanya memesan tiga meja dalam pelaksanaan acara ini. Tapi karena banyaknya mahasiswa yang hadir sehingga ditambah 1 meja lagi dengan banyak tambahan kursi. Keadaan seperti ini langsung ada kegiatan gayung bersambut dari “Mas Talenta kepada Mbak Amelia Siswanto untuk segera melakukan penambahan meja. Ketua pelaksana panitia lainnya langsung segera menghubungi pihak restoran.

Mahasiswa yang hadir dalam acara ini sebanyak 37 mahasiswa dengan peserta yang terakhir datang adalah Pak Jerry dan Pak Jun Harbi. Sehingga kursi diselipkan untuk mereka di meja tiga. Sedangkan meja empat sebagai tambahan yang dimaksudkan adalah mahasiswa HMU yang dijemput oleh ketua PPIT.

Malam semakin larut kebersamaan tetap terjaga. dan kini tibalah saat berpisah dimana semua mahasiswa yang hadir mesti pulang ke dorm masing-masing. Sebelum pulang, diadakan foto bersama di depan restoran. Inilah foto-fotonya.

 

Pengalaman Kuliah di Harbin Normal University

Oleh: Satrianawati (Mahasiswi Doktoral di Harbin Normal University)

 

Perkenalkan saya Satrianawati dan ini adalah cerita tentang tahun pertama saya di Harbin. Saya akan memfokuskan cerita saya tentang pengalaman belajar bahasa Mandarin dan dormitory alias asrama Hashida (Harbin Shifan Daxue). Cerita saya bermula dari belajar bahasa Mandarin di Harbin Normal University. Karena bahasa China saya sangat kurang, saya mengambil program Bahasa selama 1 Tahun. Ringkasnya, belajar Bahasa di Hashida sangat menyenangkan dan tentunya mencerdaskan.

Maw taw gak?

Pertama kali datang ke kelas, saya bertemu dengan orang-orang yang baru dan tentunya dengan budaya yang berbeda dengan Indonesia. Ruang kelas saya sangat kecil. Kelas saya berukuran kurang lebih 3,5 x 4,5 meter. Saya merasa ruangan yang kecil ini tidak membuat saya merasa sesak tapi membuat saya semakin dekat dengan mahasiswa lainnya. Belajar bahasa Mandarin memang sangat sulit, tapi sangat menarik.

Di Hashida, belajar bahasa Mandarin terdiri dari tiga pelajaran utama yaitu: berbicara (kouyu ke), umum (zonghe ke) dan mendengarkan (tingli ke). Ketiga pelajaran hampir sama, intinya semuanya mengarahkan mahasiswa untuk dapat memahami bahasa di China tidak hanya untuk berkomunikasi tetapi juga untuk menulis yang disertai dengan struktur bahasa (yufa).

Saat belajar di kelas, kami tidak langsung diajarkan hanzi. Tetapi dimulai dari mengenal huruf pinyin atau mengenal cara baca. Selanjutnya membaca pinyin dengan tone yang berbeda dan menulis Hanzi. Setiap huruf Hanzi ditulis sebanyak 10x. dan semakin hari kata yang ditulis semakin banyak. Tulisan Hanzi saya yang pertama sangat lucu, tulisan Hanzi saya besar besar seperti pagar. Tapi itu tidak hanya terjadi pada saya, bahkan teman-teman saya juga mengalami hal yang sama. Bahkan ada teman saya yang menulis dan tulisannya jauh dari yang diharapkan, sehingga beda tulisan menjadi beda arti.

Hari demi hari terus berganti, kami belajar dengan baik. Setiap hari kami punya tugas belajar yang disebut “ting xie” orang Indonesia bilang “dikte”. Kegiatan belajar ini dilakukan di awal pelajaran “Zonghe”, dimana guru membaca huruf-huruf hanzi dan mahasiswa menulis hanzi. Terkadang banyak mahasiswa yang datangnya telat, karena takut dengan “ting xie”. Tapi percayalah kegiatan belajar “ting xie” membuat kami cepat memahami dan menulis “Hanzi” dengan baik. Selalu hadir tepat waktu dan belajar dengan baik merupakan kegiatan utama yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswa Hashida. Kegiatan belajar dilakukan selama 4 bulan, dimana dibulan keempat kami sudah bisa membaca hanzi tanpa pinyin. Kemudian diadakan ujian dari ketiga mata pelajaran tersebut.

Setelah ujian selesai kami kemudian libur winter selama 2 bulan Januari dan Februari. Selanjutnya, penaikkan kelas. Semua mahasiswa dipastikan naik kelas, tapi ketika di kelas ini ditemukan mahasiswa yang sulit membaca Hanzi maka siswa tersebut akan diturunkan atau dikembalikan ke level yang semestinya. Mata pelajaran di kelas yang baru, tetap sama dengan di kelas sebelumnya. Perbedaannya terletak pada tingkat kesulitan materi. Semakin tinggi kelasnya semakin sulit materinya. Tapi percayalah, sulitnya materi pelajaran terjadi kalau Anda tidak belajar dengan baik. Tapi kalau kamu mengikutinya, kamu akan memahami semua materi pelajarannya. Di kelas saya yang baru, sangat jauh berbeda dengan kelas awal saya. Kelas saya yang baru berukuran sangat besar yang berisi lebih dari 40 kursi. Dengan papan tulis yang sangat canggih, menurut saya.

Kelas saya yang bagus membuat saya sangat nyaman dan semangat belajar. Guru kami mengajar dengan penuh cinta kasih. Sangat peduli dengan kami. Guru kami menuntun kami dengan baik, dalam berbicara, membaca hanzi, dan lain sebagainya. Bahkan ketika kami mengalami masalah dengan hal terkecil misal membeli air minum dengan cara menelpon tukang galon.

 Lanjut yaaaa,

Selain seputar belajar di Hashida saya juga ingin bercerita tentang dormitory di Hashida. Dormitory di Hashida ada tiga dorm. Dorm 1, dorm 2, dan dorm 3. dorm 2 lebih bagus dari dorm 1, dan dorm 3 lebih bagus dari dorm 2. itulah yang dikatakan oleh mahasiswa yang ada di Hashida. Pelajaran apa yang bisa kamu ambil dari hal ini? Kamu akan melihat karakter setiap orang yang selalu melihat perbedaan dan lupa mensyukuri apa yang telah dimiliki. Bagi saya yang tinggal di dorm 1, saya merasa bahwa dorm dimana saya tinggal sangat bagus. Mengapa? Karena saya tidak membandingkan dengan yang lebih bagus dari apa yang saya tinggali saat ini. Saya lebih suka bersyukur dengan apa yang saya punya. Sehingga saya puas dengan apa yang saya miliki saat ini.  Dorm saya dilengkapi tempat tidur, meja belajar, cermin, televisi, lemari dengan 4 pintu bawah yang besar dan 4 pintu atas yang kecil. Tentunya lemari ini sudah sangat besar untuk menampung semua barang saya. Selain itu, kami tidak lagi membayar listrik dan wifi termasuk air hangat. Karena semua sudah include dalam pembayaran dorm dan tergolong cukup murah, yaitu 800 yuan perbulan. Selain itu air hangat tidak perlu bayar. Air hangat mengalir mulai dari jam 06.30 pagi sampai jam 8 pagi. Kemudian malam air, hangat mengalir jam 7 sampai jam 10 malam. Air hangat di Harbin sangat penting. Karena cuaca di Harbin yang sangat dingin. Kondisi cuaca adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran yang Maha Kuasa, dimana tubuh kita lama-kelamaan bisa beradaptasi dengan cuaca ini. Jangan takut datang Ke Harbin, dimanapun tempatmu, itu Bumi Allah. Jadi kuliah di Hashida dan tinggal di dorm Hashida banyak untungnya.

Harbin Winter Tour 2018: Huan Yin Ni !

Oleh: Rima Febria

Harbin Winter Tour merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan oleh Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) PPI Tiongkok cabang Harbin. Latar belakang diselenggarakannya kegiatan ini yaitu karena banyaknya minat orang untuk mengunjungi kota ini. Kota Harbin dikenal juga dengan julukan “Kota Es”, karena kota ini memiliki musim dingin yang panjang dan merupakan salah satu tempat terdingin di Tiongkok. Selain itu, Harbin juga merupakan ibu kota Provinsi Heilongjiang yang terletak di bagian Utara Tiongkok. Kegiatan Harbin Winter Tour ini memiliki tujuan utama untuk mengenalkan budaya dan lingkungan Harbin kepada masyarakat Indonesia, selain itu juga membantu mengakomodasi masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung kemari.

Rangkaian acara Harbin Winter Tour ini diselenggarakan selama 4 hari 3 malam, tepatnya dari tanggal 20-23 Januari 2018. Peserta berjumlah 16 orang, mayoritas merupakan mahasiswa/i Indonesia yang sedang kuliah di kota-kota lain di Tiongkok seperti Nanchang, Shenyang, Beijing, Hebei, dan Shandong. Pada hari pertama, para peserta diajak mengunjungi Biological Camp Unit 731. Ini merupakan salah satu museum yang paling terkenal di Harbin, museum ini menceritakan sejarah tragis mengenai eksperimen manusia yang dilakukan oleh tentara Jepang pada zaman perang dunia II. Lalu, pada pagi hari kedua destinasi pertama yang dituju adalah Volga Manor, yang merupakan komplek berisi bangunan-bangunan khas Rusia. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Central Street dan Saint Sophia Cathedral. Central Street merupakan pusat pembelanjaan di Harbin, sedangkan Saint Sophia Cathedral adalah bangunan gereja kuno yang dibangun pada abad ke -18 oleh bangsa Rusia. Selanjutnya menjelang malam para peserta diajak ke Harbin Ice and Snow World Festival 2018, yang merupakan event tahunan berisikan bangunan-bangunan dan ukiran-ukuran raksasa dari balok es.  Pada hari kedua ini suhu di Harbin telah mencapai titik yang cukup ekstrim yaitu mencapai -30 derajat celcius, meskipun begitu antusiasme para peserta tetap terlihat besar untuk menikmati perjalanan di Harbin. Memasuki hari ketiga, suhu di Harbin terus menerus menurun yaitu berada dititik -28 derajat celcius hingga -33 derajat celcius. Para peserta bergegas untuk berangkat menuju Snow Village, untuk tiba tempat ini perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu kurang lebih selama 6 jam. Snow Village sendiri merupakan tempat ikonik dari provinsi Heilongjiang, dimana tempat ini merupakan sebuah pedesaan yang seluruh bangunannya dipenuhi salju seperti rumah-rumah di negeri dongeng dan ketebalan salju disini bisa mencapai satu meter. Selain menikmati cantiknya pemandangan, para peserta juga bisa bermain snow motor untuk menuju puncak tertinggi di Snow Village. Memasuki hari ke empat, destinasi terakhir adalah Yabuli Ski Resort. Setelah bermalam di Snow Village, para peserta bersiap pergi ke Yabuli Ski Resort untuk bermain ski dan snowboarding. Peserta diberikan kesempatan untuk bermain selama empat jam. Setelah puas menikmati seluruh rangkaian acara, akhirnya para peserta kembali pulang selamat ke Harbin dan langsung diantarkan menuju stasiun kereta api. (RMF)

SKUY: Ski KUY !!

Dibuat oleh: Dwi dan Dedy

Harbin, Heilongjiang (23/12) – Skuy atau Ski Kuy ! yang berarti Ski Yuuuuk! merupakan acara musim dingin tahunan yang diselenggarakan oleh Divisi Peminatan dan Pengembangan Diri (PPD) PPI Tiongko Harbin. Pada kesempatan ini, Skuy bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkenalkan mahasiswa Indonesia tentang ski secara langsung. Skuy dilaksanakan pada Sabtu, 23 Desember 2017 lalu bertempat di Gunung Mao’er, Heilojiang, China.  Program ini berhasil dilaksanakan dengan arahan dari Talenta (Mahasiswa Harbin Institute of Technology) selaku ketua pelaksana.

Pelaksanaan Acara ini dimulai dengan berumpul bersama di dorm A13 Harbin Institute of Technology pada pukul 05.30 pagi. Perjalanan dari kota Harbin ke Gunung Mao’er membutuhkan waktu sekitar 2 jam 30 menit. Pukul 10.30 peserta dan panitia yang berjumlah 20 orang memulai kegiatan ski bersama. Walaupun cuaca pada saat itu berkisar -15 derajat Celcius, peserta skuy tetap dapat menikmati si dengan seru. Pada pukul 04.30 kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan meninggalkan Gunung Mao’er untuk kembali ke Kota Harbin.

 

PPIT Harbin Kembali Mementaskan “Ken Arok” Berkolaborasi dengan PPIT Nanchang

Dibuat Oleh: Affandi Diharjo

Nanchang, Jiangxi – Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) mengolaborasikan cabangnya di Harbin dan Nanchang untuk mementaskan legenda Ken Arok.

Legenda tersebut disajikan dalam drama teater di kampus Jiangxi Normal University (JNU) Nanchang, Sabtu (2/12) malam, berhasil menyita perhatian masyarakat setempat dan mahasiswa dari berbagai negara.

Bahkan, setengah jam sebelum acara yang baru dimulai pukul 19.00 waktu setempat (18.00 WIB) itu, gedung pertunjukan di kampus tersebut sudah dipadati ratusan penonton.

Legenda yang menyuguhkan intrik kekuasaan dan kisah asmara Ken Arok-Ken Dedes tersebut sebelumnya telah dipentaskan di Harbin, Provinsi Heilongjiang, pada 20 Mei 2017.
Berkat kesuksesan pementasan di Harbin tersebutlah, acara ini berhasil mendapatkan dukungan penuh dari PPIT dan Rumah Budaya Indonesia di bawah naungan Atase Pendidikan Kedutaan Besar RI di Beijing untuk dipentaskan lagi di Nanchang, Provinsi Jiangxi.

Secara umum tidak ada perbedaan pementasan di Harbin dan Nanchang, kecuali formasi beberapa pemain utama dan pendukung pertunjukan tersebut, khususnya pemeran Ken Dedes, Tunggul Ametung, dan Mpu Gandring.

“Ada beberapa di antara kami yang tidak bisa ikut ke sini karena kesibukan studi,” kata Joshua Adriel Mulyanto, pemeran Ken Arok.

Ia bersama 9 rekannya dari Harbin Institute of Technology (HIT) menempuh perjalanan ribuan mil dari wilayah utara ke selatan China untuk bertemu sesama pelajar asal Indonesia di Nanchang guna mementaskan lakon yang pernah sukses memukau ratusan penonton dan mengharumkan nama Indonesia di kampusnya.

“Tujuan utama kami kesini adalah untuk memperkenalkan budaya Indonesia dan juga untuk membuktikan bahwa pelajar Indonesia bisa bekerja sama secara baik dengan pelajar dari berbagai negara untuk menghasilkan mahakarya yang membanggakan”, kata Jeremia William Chandra, yang bertindak sebagai sutradara.

Hal ini terbukti dengan keterlibatan mahasiswa asing dari berbagai negara dalam pementasan Ken Arok di Nanchang, di antaranya dari Bangladesh, Korea, Nepal, dan Kirgistan.

“Saya sangat senang mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam pementasan ini,” kata Nafeu Hassan Hilal, mahasiswa JNU asal Bangladesh, yang berperan sebagai prajurit Kerajaan Tumapel.

Pentas seni para mahasiswa Indonesia tersebut juga mendapatkan apresiasi dari pihak universitas terbesar kedua di Provinsi Jiangxi itu.

“Tentu saja kami bangga dengan anak didik kami dari Indonesia. Tidak hanya kepiawaian dalam seni, melainkan mereka juga bisa melibatkan rekan-rekannya dari negara lain,” kata Deputi Direktur Kerja Sama Internasional JNU, Li Haijun.

Pementasan tersebut juga didukung oleh 10 mahasiswa asal Indonesia di Nanchang.

“Harus diakui bahwa pelajar Indonesia telah menjadi duta budaya Nusantara di luar negeri,” kata Sutana Rihesti Triaswarin, tenaga pengajar Bahasa Indonesia dari Universitas Indonesia.

Melihat Meriahnya Pameran Budaya Indonesia di Harbin, China

Dibuat oleh: Putra Wanda (Pengurus Pusat PPI Tiongkok, Mahasiswa Doctoral di HUST, Harbin, China)

PPI Tiongkong, Harbin (9/17)- Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (PPIT) Harbin kembali ikut serta dalam acara Mahasiswa yang bertajuk Festival Budaya Internasional yang diselenggarakan di kampus Harbin Engineering University (HEU), Harbin, China.

Sejak pagi panitia sudah mempersiapkan materi yang akan ditampilkan pada saat acara nanti, mulai dari properti, bahan makan, kain hingga snack khas Indonesia yang siap untuk disuguhi kepada pengunjung yang hadir.

Acara yang dimulai sekitar puul 10.00 pagi (waktu Harbin) ini mendapat sambuatan yang sangat meriah dari pengunjung yang hadir. Begitupula dengan stand Negara Indonesia yang sangat ramai dikunjungi sejak stand baru dibuka, para pengunjung  mencoba makanan khas Indonesia, Mencoba alat musik seperti angklung dan bertanya mengenai Indonesia.

Pada acara ini, setiap negara seperti Inggris, US, Korea, Jepang, Indonesia, Thailand, Vietnam, Mongolia, Rusia dan beberapa negara lainnya diberikan kesempatan untuk menyuguhkan tarian khas Negaranya dengan iringin musik yang menambah meriahnya festival acara tahun ini.

Acara Festival Budaya Internasional dihadiri oleh lebih dari 1000 pengunjung yang datang sejak pagi hingga selesai acara.  Ini merupakan salah satu kegiatan yang diikuti PPIT Harbin yang secara rutin diadakan di beberapa kampus besar Harbin. Hal ini menjadi wadah yang bagus untuk mengenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat di luar negeri. Sekaligus promosi pariwisata Indonesia di untuk masyarakat Internasional.

Selain itu juga, melalui kepanitiaan,  kegiatan ini juga sebagai wadah untuk merekatkan solidaritas mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Harbin.

 

HALO HALO

dibuat oleh: Devi Muhtariana

Halo halo…

PPIT Harbin kembali menyapa teman-teman semua di penghujung semester genap ini. Yap, di penghujung semester genap menyambut liburan musim panas ini, PPIT kembali berpartisipasi dalam acara International Cultural Festival yang diadakan di salah satu kampus di Harbin yaitu Northeast Forestry University. Ada empat pelajar Indonesia yang menempuh studi di kampus yang berbasis Kehutanan ini. Tiga diantaranya saat ini sedang menempuh studi doktor dan sisanya menempuh studi master. Meskipun beranggotakan sedikit orang, namun tidak menyurutkan semangat untuk berpartisipasi dalam acara budaya internasional ini.

Negara-negara yang turut berpartisipasi dalam acara ini diantaranya adalah Indonesia, Yaman, Tunisia, Kroasia, Malawi, Mali, Pakistan, Ethiopia, Kamerun, Thailand, Sudan, Korea Utara, Korea Selatan, Sierra Leone, Tanzania, Republik Democratic Kongo, Vietnam, Rusia, Irak, dan Cina. Acara ini dipandu oleh host  dan berlangsung dari pukul 10:00 hingga pukul 16:00. Acara ini berjalan dengan meriah. Berbagai negara menampilkan sesuatu yang unik dari negara mereka baik itu hidangan khas, pernak pernik, maupun tarian khas. Indonesia pun tak kalah dengan dengan menampilkan kain khas batik, alat musik angklung, baju adat daerah dari beberapa provinsi di Indonesia. Selain itu, beberapa teman dari Indonesia juga turut serta untuk tampil mengisi acara di panggung berupa fashion show yang diiringi dengan instrumen musik Gundul Gundul Pacul. Fashion show ini   menampilkan baju adat daerah berupa baju batik, baju Bugis, ulos Batak, dan tentu saja kebaya khas Indonesia.

Satu hal yang menarik dari acara ini adalah panitia menyediakan paspor palsu untuk setiap pengunjung yang datang. Pengunjung diminta untuk mengoleksi cap stempel dari berbagai negara yang berpartisipasi dalam acara ini. Jika pengunjung berhasil mengumpulkan seluruh cap stempel dari keseluruhan negara yang berpartisipasi, maka pengunjung berhak mendapatkan doorprize yang telah disediakan oleh panitia. Menarik bukan!!! Stay tune dan sampai jumpa di acara PPIT berikutnya yaaa..

THE LAST KONGKOWS

dibuat oleh: Ira Yusma Rahayu

Pada hari Sabtu 03 Juni 2017, anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok berkumpul di salah satu Restaurant Muslim di Harbin China, tepatnya di Restaurant Marhaba Hanguang street 1-19, Nangang District Harbin untuk berkumpul bersama serta buka puasa dalam acara Gathering Last Kongkow’s. Kegiatan Gathering Last Kongkow’s  ini merupakan kegiatan Gathering terakhir yang dilakukan oleh Panitia PPD (Peminatan dan Pengembangan Diri) bertujuan untuk mempererat keakraban antar sesame pelajar di Harbin serta menceritakan keluh kesah suka duka para senior yang sudah ingin balik ke Indonesia.

Acara kali ini dipimpin oleh MC Gilbert Samuel yang bukan lain merupakan Ketua dari divisi PPD (Peminatan dan Pengembangan Diri). Pada pukul 19.00, acara dimulai dengan acara buka puasa, kemudian para peserta diajak untuk makan bersamadengan tema makan ala prasmanan.

Setelah makan bersama MC pun memulai dengan memanggil satu persatu senior-senior yang tidak lama lagi akan balik ke Indonesia.menurut mereka  selama berada di harbin banyak suka duka yang telah ia lewati mulai dari musim dinginnya yang benar-benar sangat dingin sampai musim panasnya yang begitu indah.mereka awalnya berpikir apakah akan jadi bagaimana nantinya tinggal di Harbin,tapi ternyata benar “Everything that happens there must be a reason” semua hal yang terjadi pasti ada alasannya,semuanya berjalan dengan cepat tanpa disadari dan itu adalah hal yang tidak mudah untuk dilupakan.bagaimana menjaga pertamanan kekerabatan di antara perlajar.

Semua para peserta yang hadir pada malam itu merasa bahagia sekaligus terharu dengan ucapan dari para senior.Kemudian panitia pelaksana membagikan Booklet yang berisi foto-foto moment mereka selama di Harbin.

Setelah itu,acara ditutup dengan foto bersama.

Kongres VI dan Simposium PPI Tiongkok 2017

dibuat oleh: Joshua Mulyanto

Kongres VI dan Simposium PPI Tiongkok 2017 diadakan pada 26 – 28 Mei 2017 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Dalam kesempatan yang istimewa ini, PPIT Harbin diwakilkan oleh 6 peserta penuh, yaitu Joshua Adriel Mulyanto dan Annisa Rizqi Derlandia sebagai delegasi I dan II, serta 4 orang peninjau yaitu Putra Wanda, Samuel Gilbert, Ruiz Orlando dan Jeremia William Chandra.

Kongres yang dilaksanakan di hotel Xinxilai, Hangzhou, dihadiri oleh delegasi dari 19 cabang PPI Tiongkok, pengurus harian pusat periode 2016-2017,  Sekjend PERHATI, serta perwakilan dari KBRI Beijing. Kongres dibuka secara resmi oleh Duta Besar Republik Indonesia di Tiongkok Merangkap Mongolia, Bapak Soegeng Rahardjo pada tanggal 27 Mei 2017.

Pada tanggal 26 Mei 2017, kongres dimulai pada pukul 15.30 dengan pembukaan oleh panitia, perkenalan delegasi cabang, makan malam dan dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib Kongres VI. Tanggal 27 Mei 2017, kongres dibuka secara resmi oleh Duta Besar Republik Indonesia di Tiongkok Merangkap Mongolia, Bapak Soegeng Rahardjo. Pembahasan pada hari kedua Kongres VI yaitu tentang keorganisasian, seperti AD/ART, GBHO, laporang pertanggung jawaban pengurus harian pusat, serta pada puncak nya yaitu pemilihan ketua umum PPI Tiongkok periode 2017-2018, yang menghasilkan keputusan terpilihnya sdr. Raynaldo Aprillio sebagai ketua umum PPI Tiongkok periode 2017-2018.

Simposium PPI Tiongkok 2017 yang bertemakan “Kompas Masa Depan Mahasiswa Indonesia dengan Mengoptimalkan Potensi Anak Bangsa” ini diselenggarakan pada tanggal 28 Mei 2017, dengan beberapa pembicara ternama, yaitu Dr. Rizal Ramli, Prof. Intan Ahmad, Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, Mr. James Hartono, Jona Widhagdo Putri, dan Fitriyani Bukri.

 

哈尔滨工业大学国际文化嘉年华

哈尔滨工业大学国际文化嘉年华

written by: 周采霏 (Novita Sanjaya)

2017 年6月3日,在哈尔滨工业大学的第一校区里,来自一百多个国家和中国大学生来参加精彩的节目,就是第三届哈工大国际文化嘉年华。在国家文化嘉年华台上,哈工大留学生和中国大学生一起欢歌起舞,还有个个国家的学生穿着传统衣服。同时,大家也可以尝尝个个国家的美食。这个节目不仅仅使我们感受到不同文化的交融,而且也带给我们丰富的知识。哈工大的留学生和中国大学生也非常激动和认真参加这个节目,印度尼西亚是其中之一。

为给大家精彩的节目,印度尼西亚学生准备了一场小戏剧叫KENAROK。这场戏剧是关于印度尼西亚的古代生活。虽然这场戏剧演的不是那么长的时间,但是KENAROK 非常吸引步行者。不仅仅给大家看一场戏剧,为大家更了解印度尼西亚的文化,我们也给大家听印尼歌曲、尝尝印尼小吃、画画蜡防印花法、介绍印尼传统衣服、玩儿印尼的游戏,还有让大家跟着印尼舞蹈。在节目的过程中,无论是老人和年轻人,小孩子们都非常感兴趣来到印度尼西亚的展台。我们希望大家可以来到印度尼西亚旅行,认识和了解印度尼西亚的古代文化和故事,而且也可以享受印度尼西亚美丽的地方。

首先我们向哈工大深受的谢意,给我们这个宝贵的机会。而我们也非感谢中国的大学生的帮助。我觉得这个节目非常有意义和有价值,我们可以看各种各样的文化和跟不同国家交流。希望大家别错过这个宝贵的机会。我们等待明年的哈工大国际文化嘉年华。

International Culture Festival on Harbin Institute of Technology

written by: 刘特景 (Talenta)

On 3rd June 2017. Harbin Institute of Technology once again create an amazing International Culture Festival for the 3rd time. This Festival is participated by 2000 Students from 120 different country in Harbin Institute of Technology. The road in front of International Students Center is full of Colorful decorated booth, and also songs that reflect their own culture. There are also some booth that made small activity, like dancing, traditional musical instrument, and some of them also ask their visitor to join them dance together. This Festival is not only visited by Students from different campus, but also visited by locals.

And yet, Indonesia also joined this Festival. On this 3rd year, Indonesian Booth introduced their Indonesian Food and Drinks, like Coffee, Guava Juice, Happy Soda, and more. And also at 12 PM, Indonesian shows “Mini Drama Ken Arok” with Mandarin, a small version from the Drama Ken Arok on Mei 20th 2017. Not only showing Indonesian Performance, Indonesian Students also gave the chance to make Batik on a Photo Frame that interest children to pour their Creativity on the previously pattern added frame. Other than arts, this booth also made challenging games, such as Tug of War with Ken Arok Actor, and Indonesian Traditional Games, Galasin that made the road stuck for a while because there was a lot of people that wants to try it. This activity is very welcomed by many people

This is the 3rd time Harbin Institute of Technology create this annual event. This festival was a good chance to see a lot of Culture from a lot of country at once. We hope to see more this kind of Event in the future time, in Harbin Institute of Technology.

 

.